Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Anak Petani Simalungun, Jadi Perwira di Banua

Rabu, 01 Juli 2020 | 12:28 WIB Last Updated 2020-07-01T05:30:15Z
IPDA Arifin H Simbolon SH MM.

Nasib, rezeki, jodoh dan maut merupakan rahasia yang sudah digariskan Tuhan Yang Maha Kuasa. Siapa yang tahu anak dari keluarga petani, di daerah perbukitan Simalungun Kabupaten Sumatera Utara, akhirnya menjadi Perwira Polisi di Banua Kalimantan Selatan. Dialah IPDA Arifin H Simbolon SH MM.

Sofyan Suri, Rantau


RANTAU, Poros Kalimantan - Arifin Simbolon, merupakan nama yang terinspirasi dari seorang Menteri Perdagangan RI kelahiran Medan, Arifin Siregar, yang sempat menjabat di tahun 1988-1993.

September 1980, Arifin kecil lahir di wilayah perbukitan, Desa Simbolon, Kecamatan Panai, Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.

Terlahir dari pasangan J Simbolon (69) dan T Br Marbun (68), yang merupakan Petani Padi penggarap di Desa Simbolon, Kabupaten Simalungun.

Seperti kebanyakan petani penggarap, Bapak dan ibunya meminjam tanah orang lain, untuk menghidupi Arifin kecil dan enam saudaranya.

Anak kelima dari tujuh bersaudara ini adalah anak yang berbakti. Kesehariannya kala itu, membantu orang tuanya di sawah, tidak jarang kulit putihnya melepuh akibat sengatan matahari.

"Saya dan ibu pernah menanam padi berdua hingga setengah hektar kala itu," kenangnya, saat mulai bercerita kepada penulis.



Memasuki masa remaja tepatnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), saat itu Arifin berumur 19 Tahun. Arifin remaja memutuskan hijrah ke Kalimantan Selatan, tepatnya di Kota Banjarbaru, untuk mengadu nasib di Banua.

Dirinya ikut tinggal dirumah saudara perempuan ayahnya, Shinta Rochani Br Simbolon dan suami Demson Naibaho.

"Saat di Banjarbaru sekitar tahun 1999 saya sempat bekerja disalah satu distributor oli, sebagai Office Boy. Sempat naik jabatan menjadi supir, dengan pendapat bersih Rp 50 ribu perbulan" ingatnya.

Kendati bukan algojo Arifin remaja pandai sekali menggantung. Benar saja, yang ia gantung adalah mimpinya. Dua tahun bekerja, Arifin remaja berkeinginan menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi. Sebab uang tak cukup, Arifin harus mengurungkan niatnya masuk dunia Kampus.

Babak baru kehidupan Arifin Simbolon dimulai tahun 2002, ketika Sang Tante Shinta Rochani Br Simbolon, meyakinkan dirinya untuk mendaftarkan diri sebagai calon Bintara Polisi di Polda Kalsel.

Memasuki akhir Tahun 2002 Arifin masuk seleksi Bintara diusia 22 tahun dan lulus. Menariknya dari 500 siswa di angkatannya, dirinya masuk peringkat ke- 49.

Perjalanannya sebagai anggota kepolisian terbilang sangat cemerlang. Pasalnya ketika menjabat sebagai Kepala Unit (Kanit) Narkoba Polres Banjarbaru, tidak kurang lima penghargaan didapatnya. Tiga dari Polres Banjabaru dan dua penghargaan dari Polda Kalsel.

Salah satu penghargaan ini Arifin dapatkan ketika berhasil membongkar jaringan narkoba di Kalsel, dengan barang bukti 4 kilogram Sabu Sabu dan 5.000 butir ekstasi (Inex).

"Hal paling diingat ketika menjabat sebagai Kanit Narkoba, ketika menangkap seorang wanita hamil pengguna narkoba. Wanita itu melahirkan ketika dalam tahanan," hal ini diakuinya cukup membuat perasannya miris.

Usai 13 tahun bergelut memerangi narkoba, Arifin melepaskan pangkat Bintara dan menempuh pendidikan sebagai Perwira Polisi.

"Orang kampung jadi Perwira. Saya ingat dulu, jangankan jadi Perwira, bahkan jadi Polisi saja saya tidak pernah terbayang," ungkap pria yang hobi lari ini.

Saat ini Arifin merasakan dua keberhasilan sekaligus. Pertama merasa berhasil bisa membahagiakan kedua orangtuanya.

Keberhasil keduanya adalah menjadi Perwira Polisi. Bahkan saat ini, Arifin Simbolon menjabat sebagai Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi di Polres Tapin.


"Lucu kalau ingat cita cita saya waktu kecil, ingin membahagiakan orang tua. Ingin merantau dan datang membawakan biskuit kaleng buat orang tua. Sekarang saya akui bahwa saya berhasil membahagiakan orang tua," ungkap bapak dua anak ini.

Dirinya juga ingat pesan ayahnya, untuk selalu menjaga kesehatan dan tidak memperbolehkannya merokok. Sebagai pembuktian, sampai sampai umur 40 tahun ini Arifin tidak pernah menghisap rokok.

"Bahkan saat saya pulang kampung, Ayah Saya pernah berkata, 'kau simpan lah satu bungkus rokok, nanti kalau ada teman yang ngeroko bisa kamu kasih,' sampai begitu beliau pesan," ungkapnya.

Soal musik dirinya ngefans berat dengan band beraliran rock asal Inggris, Queen.

Berbagai lagu yang dinyanyikan Fredy Merkuri inilah yang membangkitkan semangatnya menjalani kehidupan. Mulai dari Bohemian Rhapsody, We Will Rock You, I Want To Break Free, Don't Stop Me Now sampai dengan We Are The Champions.(sry/zai)
×
Berita Terbaru Update