Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Media Diminta Proporsional Dalam Memberitakan Produk DPR

Sabtu, 27 Juni 2020 | 13:51 WIB Last Updated 2020-06-27T05:51:50Z
Media Diminta Proporsional Dalam Memberitakan Produk DPR
RAPAT PLENO - Rapat Pleno Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)melalui aplikasi Zoom yang dihadiri para pengurus SMSI, Jumat (26/6) sore.


JAKARTA, Poros Kalimantan - Para pengelola media massa, khususnya media siber diserukan untuk berhati-hati, dan proporsional dalam menyikapi kondisi sosial politik, terkait Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

Produk legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belakangan ini cenderung menimbulkan polarisasi dan perpecahan dalam masyarakat. Karena itu media massa juga diminta lebih arif dan proporsional dalam memberitakan produk legislasi DPR yang kadang-kadang mendahulukan sisi politik dari pada kepentingan bangsa.

Seruan itu mengemuka setelah melalui pembahasan Rapat Pleno Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)  melalui aplikasi Zoom yang dihadiri para pengurus SMSI, Jumat (26/6) sore.

Rapat Pleno ini dipimpin oleh Ketua Umum SMSI Firdaus, didampingi Sekretaris Jenderal SMSI HM Untung Kurniadi.

Rapat Pleno ini selain membahas rencana rapat kerja nasional SMSI, juga membicarakan persoalan bangsa, termasuk soal Pancasila yang menjadi dasar negara kita.

Ketua Umum SMSI Firdaus mengatakan, SMSI yang beranggotakan lebih dari 1000 perusahaan media siber di seluruh Indonesia, merasa terpanggil untuk membahas masalah kebangsaan yang terbelah gara-gara produk DPR.
Produk legislasi DPR terakhir yang menimbulkan perpecahan di masyarakat adalah RUU HIP.

“Kami prihatin terhadap produk DPR yang hanya menimbulkan polarisasi dan perpecahan dalam masyarakat,” kata Firdaus.

Media Diminta Proporsional Dalam Memberitakan Produk DPR

     
Firdaus mengungkapkan, Pancasila yang selama ini menjadi dasar negara dan melandasi organisasi-organisasi di Indonesia harus tetap dipertahankan. Jangan ada pihak-pihak yang mengganggu, melemahkan, atau mengubah Pancasila melalui cara apapun.

“Kalau Pancasila diubah dengan RUU HIP ini, negara kita ini mau jadi apa? Pancasila juga sudah menjadi landasan organisasi kita SMSI. Kalau Pancasila diubah, mau dikemanakan arah organisasi ini,” kata Firdaus yang disambut para peserta pleno dengan kata sepakat, “RUU HIP harus dicabut,”.

Sedikitnya ada empat poin di dalam RUU HIP yang paling banyak diprotes oleh berbagai kalangan. Pertama, tidak dicantumkannya TAP MPRS soal pelarangan PKI dan komunisme dalam konsideran.

Kedua adanya frasa “Ketuhanan yang berkebudayaan” dalam pasal 7 ayat (1) dan konsep Trisila dan Ekasila dalam pasal 7 ayat (2) yang dinilai mengesampingkan agama. RUU HIP tersebut telah disahkan menjadi RUU inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). 

SMSI dalam menyikapi RUU HIP tersebut, selain menolak, juga akan melakukan kajian mendalam, mengenai apa saja yang akan kena dampak negatif kalau sampai RUU HIP disahkan.(sry/zai)
×
Berita Terbaru Update